Selasa, 12 Juni 2012

    
Ramadhan sebentar lagi…. Tak terasa ya, waktu berputar demikian cepat. Sepertinya kenangan Ramadhan tahun lalu masih terasa. Dan kini kita sudah hampir sampai di beranda Ramadhan kembali. Bulan Ramadhan memang bulan istimewa. Selain diwajibkannya umat Islam berpuasa sebulan penuh, pada bulan itu pula Allah swt janjikan berlimpah berkah dan pahala. Ibadah sunnah yang diberi balasan kebaikan 70 kali lipat oleh Allah swt, dibanding 11 bulan yang lain, membuat umat Islam berlomba-lomba beramal sholeh sebanyak-banyaknya di bulan itu.

     Namun walaupun berpuasa, pada kenyataannya anggaran belanja rumah tangga jadi bertambah, karena kebutuhan makanan saat buka puasa jadi lebih variatif. Yang mungkin biasanya kolak hanya seminggu sekali, di bulan Ramadhan bisa muncul hampir setiap saat berbuka. Itu pun bergantian dengan ‘teman-temannya’. Ada es buah, es campur, jus, es dawet… pokoknya komplit deh. Belum lagi makanan selingan, kue-kue, jajanan, buah-buahan. Ditambah lagi, harga bahan makanan biasanya mengalami peningkatan di bulan Ramadhan dan meningkat lagi saat menjelang hari raya. Jelas saja anggaran belanja pun membengkak…


So, bagaimana agar anggaran tidak jebol?

Ini Tipsnya :

1.      Ramadhan bulan spesial, butuh anggaran spesial
Jadikan Ramadhan bulan yang spesial sehingga perlu ada perencanaan  keuangan tersendiri untuk bulan ini. Hal ini diperlukan karena kebutuhan anggaran belanja tidak hanya pada bulan itu saja, namun berlanjut hingga hari raya ‘Idul Fitri. Karena itu anggaran perlu disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya seperti halnya kita mempersiapkan anggaran untuk pendidikan anak misalnya, yang setiap tahun ada tahun ajaran baru. 

2.      Buat patokan alokasi belanja makanan
Dengan diwajibkannya berpuasa sebulan penuh, maka sering kita memiliki persepsi kita harus menyiapkan cadangan makanan agar saat puasa tidak terasa berat. Cadangan makanan ini yang kemudian membutuhkan alokasi anggaran tersendiri. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan membuat menu hidangan berbuka dan sahur dalam sebulan. Yang paling penting dalam penyiapan menu ini adalah kebutuhan akan hidangan yang sehat dan bisa menjaga daya tahan tubuh selama berpuasa. Bukan sekedar makanan dan minuman pemuas nafsu dahaga dan lapar setelah sehari berpuasa. Kita bisa menyiasati agar biaya atau belanja untuk menyiapkan menu-menu tersebut sama dengan bulan-bulan yang lain. Atau kalaupun bertambah, pertambahannya bisa kita rencanakan. Kita bisa buat patokan misalnya. Untuk belanja makanan di bulan Ramadhan, ada tambahan sebesar 10%-15% dibanding bulan lainnya. Jadi apabila di bulan lain belanja makanan untuk pribadi sebesar Rp 1.500.000 sebulan, maka di bulan Ramadhan menjadi Rp 1.700.000 sebulan. Selanjutnya adalah upaya komitmen agar pengeluaran tidak lebih dari itu.

3.      Alokasi zakat infaq shadaqah (ZIS)
Bulan Ramadhan bulan penuh pahala yang berlipat-lipat. Karena itu kita berlomba-lomba melakukan amal kebaikan salah satunya dengan ZIS. Sekarang coba kita lihat anggaran cash flow kita di bulan-bulan lain, adakah anggaran untuk ZIS? Dari beberapa klien yang berdiskusi dengan saya, bisa dikatakan jarang yang membuat alokasi ZIS di cash flow keuangan mereka. Karena sudah habis untuk alokasi anggaran kebutuhan. Selain itu ZIS dianggap sebagai sesuatu yang tak perlu dialokasikan. Kalau ada ya kasih, kalau tidak ada ya gimana lagi….? Nah, jika di bulan-bulan lain alokasi ZIS tidak ada, jika kita mau beramal ZIS di bulan Ramadhan, mau mengambil dari pos anggaran yang mana?
Ketika ZIS sudah kita anggarkan dari awal saat perencanaan keuangan kita, seberapapun itu, itu sudah merupakan wujud syukur kita kepada Allah swt atas rizqi yang diberikan kepada kita. Dan seperti janji-Nya, barangsiapa yang bersyukur, akan ditambah nikmatnya.
Sebenarnya ZIS bisa dilakukan kapan pun. Namun karena momentum Ramadhan, kita jadi ingin memberi ZIS juga sebanyak mungkin tentunya. Seperti memberi hidangan orang berbuka, apakah itu dengan menyumbang ke masjid/musholla atau berbuka puasa bersama kerabat dan teman, semuanya membutuhkan alokasi anggaran. Atau menyumbang ke fakir miskin. Atau juga zakat maal. Yang pasti adalah zakat fitrah yang harus ditunaikan sebelum sholat idul fitri. Bila anggaran ZIS di bulan lain Rp 500.000, mungkin di bulan Ramadhan bisa menjadi Rp 1.000.000. 

4.      Persiapan lebaran
Sesuai dengan tema ‘Idul Fitri yaitu hari yang suci, maka kita pun ingin di hari itu kita tampil suci dan bersih. Namun makna ini merembet ke hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Seperti perlunya pakaian baru, asesoris baru, perabot baru, rumah yang direnovasi baru dan lain-lain. Hal-hal yang terkait perilaku konsumtif ini membutuhkan lagi tambahan anggaran. Biasanya yang banyak terjadi, alokasi diambil dari THR.
Sebenarnya sah-sah saja, karena namanya juga tunjangan hari raya. Namun perlu kita pahami, tunjangan itu hanya akan kita terima setahun sekali dalam jumlah cukup besar (biasanya sama dengan gaji sebulan). Sebaiknya tidak kita habiskan seketika itu juga. Kita belanjakan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Karena  Rasulullah saw mengajarkan kita untuk hidup sederhana. Sisanya bisa kita investasikan untuk Ramadhan dan lebaran tahun berikutnya. Pertambahan investasi bisa membantu memback-up di saat ada kebutuhan anggaran yang berlebih. Atau bisa juga untuk tambahan investasi pendidikan anak, naik haji, pensiun dan lain-lain.

5.      Mudik 
Lebaran adalah momentum yang luar biasa buat masyarakat negeri ini. Pergerakan apapun terjadi dengan dahsyat di negeri mayoritas muslim terbesar di dunia. Pergerakan manusia, barang bahkan uang. Mudik membutuhkan alokasi anggaran khusus, seperti halnya kita berencana liburan. Ada komponen biaya perjalanan apakah naik transportasi umum atau kendaraan pribadi, akomodasi selama mudik, oleh-oleh dan lain-lain. Sebaiknya kegiatan mudik sudah masuk di perencanaan keuangan kita. Jangan sampai keuangan kita jadi malah banyak tekornya.

6.      Komunikasikan dengan Keluarga
Hal ini seharusnya menjadi point terpenting pertama  yang terpenting yang dilakukan sebelum merencanakan keuangan kita. Kita bisa bahas bersama menu-menu apa saja yang diinginkan anggota keluarga dan disesuaikan dengan anggaran yang ada. Kemudian terkait dengan kebutuhan menyambut lebaran. Apakah benar-benar membutuhkan baju baru atau tidak. Apakah perlu juga mudik pada lebaran ini atau tahun depan saja atau saat momen yang lain. Sehingga alokasi anggaran bisa efektif dan sesuai dengan kebutuhan bukan hanya menuruti keinginan...
  

   


0 comments:

Poskan Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!